Wednesday, May 1, 2013

Penelitian Tindakan Kelas (Action Research)

        Penelitian Tindakan Kelas (Action Research)

  Menurut Carr & Kemmis dalam (Wardhani,2007) penelitian tindakan kelas (PTK) adalah bentuk refleksi sendiri yang dilakukan oleh guru, siswa atau kepala sekolah dalam situasi sosial atau pendidikan untuk meningkatkan rasionalitas dan kepantasan pada praktek sosial mereka sendiri atau praktek pendidikan berlangsung. Sedangkan Fraenkel(2008) mendefinisikan PTK sebagai penelitian yang dilakukan oleh satu atau lebih individu atau kelompok dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau memperoleh informasi untuk dibagikan ke lingkungan. Kemudian Igak Wardani(2007) mendefinisikannya sebagai penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa PTK adalah suatu usaha dari individu/kelompok untuk meningkatkan atau menyelesaikan keadaan/situasi yang tidak memuaskan. 
          Tujuan PTK adalah untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam lingkungan sosial atau pendidikan. PTK juga bertujuan untuk memperbaiki kinerja seseorang misalnya kinerja guru di kelasnya. Lebih jauh lagi PTK bertujuan untuk memperbaiki dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut, serta situasi atau lembaga praktik tersebut dilaksanakan. 
          PTK dapat dilaksanakan oleh individu atau kelompok, guru, guru BP, kepala sekolah juga lembaga kesiswaan. Pada dasarnya PTK dapat dilakukan oleh siapa saja yang berkomitment melakukan peningkatan baik pada performanya juga pada lembaga di mana seseorang terlibat.
              Adapun ciri-ciri PTK menurut Wardhani (2007) adalah:
1. adanya masalah 
    guru menyadari bahwa ada masalah yang terjadi dalam pembelajaran yang selama ini berlangsung sehingga guru merasa perlu memperbaikinya. Dengan kata lain, guru memiliki kepedulian yang tinggi dengan kualitas pendidikan yang berlangsung. Hal inilah yang membedakan masalah dalam PTK dengan penelitian lain.
Beberapa contoh masalah yang terjadi misalnya pertanyaan guru yang tidak pernah terjawab oleh siswa, pekerjaan rumah yang tidak pernah diselesaikan oleh siswa atau sekelompok siswa yang selalu berusaha menentang perintah guru.
2. refleksi diri
refleksi diri merupakan ciri PTK yang paling esensial karena PTK mempersyaratkan guru mengumpulkan data dari praktiknya sendiri melalui refleksi diri. Dari hasil refleksi tersebut , guru mencoba menemukan kelemahan dan kekuatan dari tindakan yang dilakukannya dan kemudian mencoba memperbaiki kelemahan dan mengulangi bahkan menyempurnakan tindakan yang dianggap sudah baik. Jadi, data dikumpulkan dari praktek sendiri bukan dari sumber data yang lain. Beberapa contoh refleksi diri : apakah penjelasan saya terlampau cepat? apakah saya sudah memberikan contoh yang memadai? apakah siswa memahami penjelasan saya? dll.
3. dilakukan di dalam kelas 
Fokus PTK adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi
4. bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran
Perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus-menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan. Karena kegiatan yang berulang-ulang, dalam PTK dikenal adalanya siklus pelaksanaa yaitu perencanaan-pelaksanaan-observasi-refleksi-revisi (perencanaan ulang).
                Langkah-langkah dalam melakukan PTK menurut Fraenkel (2008) adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah
    Langkah pertama dalam PTK adalah mengklarifikasi masalah yang menjadi concern.  PTK biasanya menyelesaikan masalah yang sangat sempit. namun juka PTK dilakukan oleh sekelompok guru yang memutuskan untuk bekerja bersama dalam proyek jangka panjang, penelitian bisa lebih panjang. Sehingga, pertanyaan penelitian seperti " Bagaimana cara terbaik untuk mengajar sebuah topik?" lebih tepat dibandingkan dengan pertanyaan penelitian " apakah model pembelajaran A lebih baik daripada model pembelajara B?".
2. Mengumpulkan informasi
Setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah memutuskan data-data apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana memperolehnya. Misalnya saja data akan diperoleh dengan cara survey, observasi, interview, dsb.
3. Menganalisa dan menginterpretasi
Setelah data dikumpulkan, data-data yang diperoleh harus dianalisa sehingga fakta dapat terungkap.
4. Mengembangkan perencanaan
langkah berikutnya adalah membuat perencanaan untuk mengimplementasikan perubahan berdasarkan penemuan pada langkah 3.
            Lebih detail Wardhani(2007) mengemukakan bahwa PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan, melakukan tindakan, mengamati, dan melakukan refleksi.
keempat tahap tersebut merupakan satu siklus atau daur, sehingga setiap tahap akan berulang kembali. setiap tahap dapat terdiri dari atau didahului oleh beberapa langkah, misalnya langkah merencanakan didahului oleh munculnya masalah yang diidentifikasi oleh guru. Tahap merencanakan dan melakukan dikaji dengan empat langkah utama yaitu: 
1. mengidentifikasi masalah
    masalah berasal dari guru sebagai pengelola pembelajaran. Guru perlu merenung atau melakukan refleksi untuk mengetahui masalah dengan jelas. Bila seorang guru bingung untuk mengidentifikasi maslah, guru dapat mulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan, kemudian mencoba memfokuskan gagasan tersebut. 
2. menganalisis dan merumuskan masalah
    setelah masalah teridentifikasi, analisis perlu dilakukan agar dapat merumuskan maslah dengan jelas. misalanya, jika masalah yang kita identifikasi adlah rendahnya motivasi belajar siswa, maka yang perlu dianalisi adlah dokumen tentang hasil belajar siswa, catatan harian kita tentang respons siswa dlam pembelajaran, dan yang paling penting melakukan refleksi, agar diperoleh gambaran yang jelas tentang perilaku mengajar kita.
3. merencanakan PTK
    langkah-langkah dalam menyusus rencana adalah sebagai berikut:
    a. rumuskan cara perbaikan yang akan ditempuh dalam bentuk hipotesis tindakan
    b. analisis kelayakan hipotesis tindakan
4. melaksanakan PTK
    Setelah meyakini bahwa hipotesis tindakan atau rencana perbaikan sudah cukup layak, maka langkah selanjutnya adalah persiapan pelaksanaan, yang sebenarnya dapat merupakan bagian dari perencanaan, tetapi dapat pula kita tempatkan sebagai bagian awal dari pelaksanaan. setelah persiapan ini mantap, barulah kita mulai dengan pelaksanaannya di kelas

keempat langkah di atas merupakan langkah yang berurutan yang berarti langkah pertama harus dikerjakan lebih dahulu sebelum langkah kedua dilaksanakan, demikian seterusnya.



              



Fitur Kelas Berpikir Kritis (features of critical thinking classroom)



Review Artikel


Ringkasan Isi Artikel

Membedakan Fitur Kelas Berpikir Kritis
(Artikel asli berjudul Distinguishing Features of Critical Thinking Classroom)

Berpikir kritis muncul dalam berbagai bentuk tapi semua memiliki satu inti fitur. Berpikir kritis berfokus pada sejumlah keterampilan dan sikap yang memungkinkan pendengar atau pembaca untuk menerapkan kriteria rasional terhadap penalaran pembicara dan penulis (Browne & Keeley, 1998). Sikap dan keterampilan ini merupakan materi kurikulum dan teks berpikir kritis yang signifikan.

Sering Mengevaluasi pertanyaan.

Berpikir kritis benar-benar merupakan aktifitas peserta. Disini kita fokus pada apa yang nampak bagi kita sebagai karakteristik utama dari kelas berpikir kritis, yaitu, kelas yang penuh dengan pertanyaan. Guru bertanya beberapa dari mereka dan mereka bertanya kepada yang lain. Setiap pernyataan deklaratif disambut sebagai sebuah kesempatan untuk bergerak ke arah pertanyaan tambahan (Meyer, 1994). 
Secara tidak langsung Meyer menyoroti percakapan penting tentang mengajukan serangkaian pertanyaan-pertanyaan kritis.
Berpikir kritis membutuhkan pemahaman. Untuk mengevaluasi penalaran, seseorang harus memahaminya terlebih dulu. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang menggali kesimpulan dan alasan dalam sebuah argumen merupakan titik awal yang penting untuk berpikir kritis (Shaw, 1996). Guru dapat memberikan bantuan bagi siswanya dengan bertanya `mengapa?" dan memberikan penguatan ketika siswa juga melakukan pencarian untuk alasan-alasan.
Pengetahuan tentang kapan dan bagaimana untuk mengajukan pertanyaan kritis harus dilengkapi dengan penciptaan iklim emosional yang konsisten dengan mencari keyakinan kuat serta memerlukan bimbingan dari guru yang terlatih.

Dorongan Belajar Aktif
Mendorong bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis adalah salah satu aspek dari `pembelajaran aktif 'yang dalam situasi tertentu menunjukkan sebagai kelas dimana berpikir kritis didorong. Namun, belajar aktif hadir dalam banyak varian, hanya beberapa yang konsisten dengan berpikir kritis.
Guru-guru adalah ahli tentang badan pengetahuan, siswa mencari pengetahuan itu. Jadi, yang berpengetahuan berbicara, yang mencari pengetahuan mendengarkan. Kejelasan dari model ini, seharusnya tidak membingungkan dengan efektifitasnya. Metode ceramah memiliki kekurangan utama, yaitu., mereka gagal untuk memberikan pelajar kesempatan untuk berlatih menggunakan pengetahuan di bawah bimbingan seorang mentor terampil. Dosen, dapat memberikan semacam bimbingan khusus dengan pemodelan berpikir kritis dengan memberikan tugas-tugas yang membutuhkan pemikiran kritis.
Mayer (1986) menyatakan, `Kunci untuk mengembangkan pemikiran kritis terletak pada penciptaan kondisi bagi partisipan bukan kepasif-an, dan memberikan peluang bagi keterlibatan secara emosional dengan materi '(dikutip dalam Garside 1996). Lebih lanjut Mayer mencatat, penonton pasif tidak terlalu rentan terhadap kritik sosial kreatif (1986). Mayer mengamati dengan benar bahwa komponen psikologis yang mendorong kepasifan dalam seorang pelajar mungkin akan menghambat berpikir kritis juga.
Pengembangan bakat untuk evaluasi kritis tergantung pada motivasi peserta didik (Keeley et al., 1995). Belajar aktif bukan hanya tentang instruktur memprovokasi siswa untuk terlibat dengan materi.  Pengalaman siswa belajar aktif memaksa dirinya untuk mempertimbangkan dan mengevaluasi secara hati-hati argumen dari gurunya dan teman-temannya, dan akhirnya, membangun argumennya sendiri.

Pembangunan Ketegangan
Sebuah kelas dengan berpikir kritis sebagai tujuan utama mendorong perubahan tentang sesuatu; semua disiplin ilmu mengandung open ended questions tentang orang yang tidak setuju tapi masuk akal, kepemilikan pengetahuan digunakan dalam cara yang kontroversial dan melaporkan bukti-bukti yang diperdebatkan.
Segala cara untuk mendorong pemikiran kritis harus meningkatkan keinginan seseorang untuk mengevaluasi perselisihan. Untuk belajar aktif, berpikir kritis memiliki Kelebihan khusus meningkatkan probabilitas bahwa perilaku evaluatif akan terjadi. Satu segi keunggulan komparatif kontroversi menciptakan keadaan tidak nyamanan bagi pembaca. Ketidak nyamanan ini dapat menyebabkan kegelisahan intelektual yang sehat di antara peserta didik yang membawa epistemologi ke ruang kelas dengan melihat tugas mereka sebagai menyerap kebijaksanaan para ahli. Model pembelajaran seperti spons pada akhirnya mengganggu ketika pelajar berhadapan dengan berbagai ahli, setiap jawaban untuk pertanyaan yang sama nampaknya unik dan tampak masuk akal.
Berpikir dimulai hanya ketika ada keraguan tentang apa yang harus dilakukan atau dipercayai; semua pikiran sadar lahir pada ketidakpastian (Baron, 1985). Keraguan memotivasi berpikir terjadi dan kontroversi menghasilkan situasi dimana keraguan muncul secara alami. Rokeah menyimpulkan bahwa proses perubahan nilainya tergantung pada kesadaran peserta didik  tentang kontradiksi, ketegangan dan kebingungan dalam sistem kepercayaan mereka saat ini (Rokeach 1968, hlm 167, 1973, hal 286).
Wawasan Nya adalah satu yang meliputi suasana ruang kelas adalah mendorong
berpikir kritis. 
Perspektif konflik akademik menantang pelajar untuk mendamaikan atau mengevaluasi (Makau, 1985). Dengan merangsang kontroversi secara sengaja, seorang profesor dapat terlibat dalam bentuk tindakan afirmatif intelektual dimana posisi minoritas secara sungguh-sungguh diberikan perlakuan yang adil (Brod, 1986). Siswa lebih bersedia untuk ditantang dan diuji ketika mereka dapat melihat kebiasaan para ahli mempertanyaan formulasi ahli lainnya (Resnick, 1987, hlm 41). Pendapat bahwa ketegangan terkait dengan kontroversi di dalam kelas merupakan strategi efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis menimbulkan masalah serius bagi banyak guru.

Daya Tarik Dengan Kemungkinan Kesimpulan
Mencari berbagai perspektif sebelum membuat komitmen kognitif adalah bijaksana. Sangat mudah untuk berkomitmen argumen tertentu ketika kita hanya mendekati masalah ini dari satu arah. (Gilbert, 1979; Rudinow & Barry, 1994; Damer,1995) menyatakan bahwa argumen dan ide dapat didekati dari banyak sudut pandang.
Berpikir kritis dapat memperluas cakrawala intelektual seseorang jika didekati dengan
`Semangat keterbukaan '(Browne & Kubasek, 1993; Taube, 1997) yang mencakup kesediaan
untuk mempertimbangkan pendekatan baru untuk masalah. Memahami pentingnya berbagai perspektif dan konteks adalah kewajiban bagi pemikir kritis karena mencegah tindakan yang terburu-buru.
Terkontrolnya keragu-raguan diperlukan saat mencari alasan dan bukti yang cukup dalam mendukung ide adalah komponen kunci dari pemikiran kritis (Garside,1996) karena memungkinkan peserta didik untuk menghadapi kemungkinan alternatif tentang makna.
Saat mencari pembuktian klaim, pelajar akan datang dengan bukti yang bertentangan, beberapa di antaranya mungkin lebih kuat dari  bukti yang mendukung kesimpulan aslinya. Dengan cara ini, pendekatan skeptis terhadap argumen menimbulkan pencarian yang berharga untuk berbagai perspektif. Belajar mendekati semua intelektual komitmen dengan skeptis meminta siswa untuk menerima kemungkinan kesimpulan pribadi
dan memungkinkan informasi lebih lanjut untuk membentuk opini mereka secara terus menerus. Browne & Kubasek (1993) mencatat bahwa itu adalah sangat wajar bagi individu untuk memegang teguh kepercayaan pribadi mereka sebagai peta kognitif yang harus dilindungi dari klaim yang bertentangan.


Ulasan
Tulisan ini ditujukan bagi guru, dosen atau pengajar lainnya dimana penulis artikel mengemukakan sejumlah atribut yang membedakan kelas-kelas yang secara reguler mendorong berpikir kritis dengan kelas yang tidak. Tujuan penulis adalah untuk menyediakan dorongan bagi anggota kelompok yang mencoba mempraktekkan lebih banyak kegiatan berpikir kritis di dalam kelas.  Dengan menyebutkan satu persatu dan mendiskusikan karakteristik tertentu dari kelas berpikir kritis, penulis ingin membantu guru-guru dan pengajar lainnya untuk menentukan ciri-ciri tertentu yang membutuhkan peningkatan dalam ketertarikan yang lebih kritis.
Penulis mengemukakan empat fitur berpikir kritis yaitu: sering mengevaluasi pertanyaan(frequent evaluative questions), dorongan belajar aktif (the encouragement of active learning), Pembangunan ketegangan (Developmental of tension) dan daya tarik dengan kemungkinan kesimpulan (facination with the contigency of conclusion).
Dengan berdasar pada teori (Shaw,1996) penulis mengemukakan bahwa berpikir kritis membutuhkan pemahaman dan kunci untuk berpikir kritis adalah pertanyaan-pertanyaan yang menggali kesimpulan dan alasan sebuah argumen. Saya setuju dengan penulis. Namun, perlu diingat bahwa guru, dosen atau pengajar memegang peranan yang sangat penting dalam hal ini. Guru perlu menciptakan suasana yang memicu siswa untuk lebih dari sekedar bertanya. Misalnya dengan mempertanyakan kembali pertanyaan yang diajukan siswa. Disini dibutuhkan seorang guru yang siap merangsang siswa untuk bertanya. Untuk dapat mewujudkan hal ini dibutuhkan guru atau pengajar yang berpengetahuan yang luas, siap dan dapat mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi, karena dengan memberi kebebasan bagi siswa untuk bertanya dan bereksplorasi mungkin yang dipikirkan dan ditemukan akan berbeda dengan apa yang menjadi pemahaman guru.  Sehingga guru harus terus menerus mengaktualisasikan dirinya, belajar memperluas dan memperdalam pengetahuannya agar dapat menjadi fasilitator bagi siswa-siswinya dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya penulis mengemukakan bahwa untuk berpikir kritis harus adanya peluang keterlibatan secara emosional dengan materi ajar serta adanya motivasi dari diri siswa. Dosen, dapat memberikan semacam bimbingan khusus dengan pemodelan berpikir kritis dengan memberikan tugas-tugas yang membutuhkan pemikiran kritis. Menurut saya untuk mempraktekkan ini, guru atau dosen perlu memahami berbagai metode pembelajaran dengan baik agar dapat menentukan metode mana yang paling baik untuk mencapai tujuan spesifik suatu pembelajaran. Guru diharapkan memberdayakan siswanya dalam proses pembelajaran sehingga siswa benar-benar memperoleh pengalaman belajar melalui metode pembelajaran yang tepat. Diantara berbagai metode pembelajaran, metode ceramah banyak dipergunakan oleh guru dalam berbagai situasi dan tujuan. Metode mengajar seperti ini kurang mengaktifkan siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ada banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan belajar aktif. Misalnya dengan diskusi kelompok, bermain peran, audio visual yang penting prosesnya bukan satu arah.
Selanjutnya penulis mengemukakan tentang pengembangan ketegangan. Disini penulis mengemukakan bagaimana kontroversi di dalam kelas merupakan
strategi efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis. kontroversi menciptakan keadaan tidak nyamanan. Ketidaknyamanan ini dapat menyebabkan kegelisahan intelektual yang sehat di antara peserta didik. Saya sangat setuju dengan pendapat ini dan kembali saya akan mengemukakan pendapat bahwa metode pembelajaran yang tepat menjadi salah satu kunci keberhasilan keterampilan berpikir kritis. Guru sebaiknya menciptakan diskusi kelas. Guru dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan yang dapat menciptakan suasana antisipasi dan inkuiri. Guru juga dapat memulai setiap pembelajaran dengan masalah atau kontroversi.
Atribut yang terakhir yang ditulis oleh penulis adalah daya tarik dengan kemukinan kesimpulan. Disini penulis mengemukakan bahwa pemikir kritis perlu memahami pentingnya berbagai perspektif dan konteks. Saya juga sangat setuju dengan hal ini. Pembelajar sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan, siswa hendaknya mencoba menemukan landasan atas argumennya, dan fakta-fakta yang mendukung alasan. Sehingga pembelajar dilatih untuk lebih dari sekedar tahu.
Kemudian penulis menyimpulkan bahwa berpikir kritis dapat diajarkan dengan bantuan aktif dari siswa-siswi kita. Untuk hal ini saya tidak sepenuhnya setuju. Saya setuju dalam hal bahwa dalam belajar harus ada kerjasama yaitu adanya kemauan kedua belah pihak yaitu guru dan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran, namun kreatifitas seorang guru diperlukan untuk membuat siswa benar-benar terlibat dalam pembelajaran.